(Bukan) Surat Terakhir

Yang terkasih Kak ius,
Yang entah sedang di Bintaro atau di Kantor Gatot Subroto.  

Bagaimana kabarmu, gendut?
Ya.. Kamu masih saja gendut. Lalu ya sudah gondrong lagi.
Liburan di Gunung Gede menyenangkan kah? 
Sepertinya memang begitu.
Senang (atau mungkin tidak) melihatmu baik-baik saja.  

Kau tau?
Saat aku menuliskan surat ini untukmu, aku sudah mulai baik-baik saja.
Tidak lagi berurai mata di setiap kata yang kutulis lalu mengingatmu.

Read More »

Happy Birthday, February!

Malang, 26 Februari 2015  

Selamat tanggal 26 Februari Cha!
24 tahun, huh?
Sudah bukan remaja belia lagi ya? :’)  

Bagaimana tahun ini?
Sudah mahir menggunakan high heels kah?
Sudah tak jemu lagi kah mendengar kata “menikah” ?
Atau mungkin sudah mulai menghias wajah dengan bedak lain selain bedak baby dan mulai memakai gincu?  

Apa kabarmu, cha? Baik-baik sajakah?
Rukunkah dengan lelaki-mu? Semoga iya!
Semoga kalian selalu menemukan cara untuk tetap bersama, agar segala alasan untuk berpisah tak akan ada
Termasuk apa yang ada di kolom KTP.  

Maaf belum sempat mengirimkan kau hadiah,
maka bolehkah surat cinta ini sebagai pengganti hadiah maupun kehadiran?  

Cha, Bukankah aneh sekaligus menakjubkan?
saat kita sudah bertahun-tahun tak bertemu, hitungan jari bisa saling bercerita dan mendengarkan, tapi kita tak pernah sekalipun merasa asing satu sama lain.
Bukankah begitu menyenangkan, saat tau bahkan di jauh sana, ada seseorang yang melihat kita sebagai sahabat, pun saudara lalu diam-diam saling merindukan?  

Oh, Prastika Tuasikal. Aku merindukanmu.
Rindu duduk berdua di tempat paling sepi yang bisa kita temui, lalu berbagi segala hal menyangkut ini dan itu.
Kemudian tertawa bagaikan kita telah menemukan sisi diri kita pada satu sama lain.  

Silahkan menghitung dan mengumpulkan banyak angka usia.
Tapi jangan lupa untuk tetap menjadi gadis kecil.
Sudah terlalu banyak perempuan yang berlomba-lomba menjadi dewasa tua, semoga aku dan kau masuk di dalam hitungan tidak.  
Tetaplah menememaniku menjadi gadis yang gemar mememeluk boneka teddy bear yang ada di jiku tempat tidur, juga sering lapar tengah malam.
Tetaplah menjadi dirimu yang begitu apa adanya.
Peduli setan dengan kata orang tentang teori introvert. Kau begitu menyenangkan dengan caramu sendiri.  

Demi Tuhan! Semoga kita lekas bertemu.
Entah di Malang, entah di Bandung, entah dimana saja.
Sebelum jarak kembali membuat kita “kehilangan” satu sama lain.  

Sekali lagi,
Selamat ulang tahun kesayangku,
Diberkatilah kau dengan segala kebaikan.
Diaminkan segala doa dan segala semoga.
Berbahagialah sebanyak mungkin selama masih bisa.  

I love you so muach
XOXO

Dear Bosse

Malang, 19 Februari 2015

Dear bosse,

Hallo bosse, sebelumnya mau bilang terima kasih untuk surat yang sudah bosse tulis ditengah  – tengah kesibukan mengurus segala urusan duniawi. Senang sekali diundang secara langsung oleh bosse untuk mengikuti gathering tanggal 1 nanti. Lalu aku pun membayangkan apa yang bosse ceritakan, tentang berkumpul bersama, makan, berkenalan, bersenang – senang dan mungkin sekaligus mencari jodoh di Bandung, kota yang katanya tempat banyak sekali orang jatuh cinta.

Kemudian aku sedih sekali karena segala kesibukan dan juga tak cukupnya waktu membuat aku tak bisa mengikuti gathering.

Yah, ternyata Malang – Bandung bisa terasa begitu jauh. Padahal banyak sekali yang ingin ku temui disana, bukan hanya saling menyapa lewat twitter. Terutama aku ingin sekali bertemu tukang pos-ku yang super sekali kak chiko, yang sudah bersusah payah mengantarkan suratku selama 30 hari (walau masih sering bolong nulis surat).

Ini tahun kedua aku mengikuti #30HariMenulisSuratCinta, juga tahun kedua aku gagal mengikuti gathering karena ini dan itu yang tak bisa ditinggalkan disini.

Bosse, maaf ya.. Dengan sangat berat hati tahun ini aku izin tidak mengikuti gathering. Tapi acaranya akan terus kupantau di timeline dengan sedikit dongkol karena tidak bisa turut hadir.

Bosse, semangat ya. Semoga tahun depan #30HariMenulisSuratCinta masih diadakan, semoga tahun depan aku bisa mengikuti gathering, semoga tanggal 1 nanti semua acara di Bandung berjalan dengan lancar. Semoga segala sesuatu yang disemogakan diaminkan. Amin!

Bosse, tolong sampaikan salamku untuk kak chiko, juga kepada semua yang nanti hadir disana. Salam paling hangat dari malang yang dingin.

Yang terakhir, salam perangko, salam tempel dan segala salam penuh cinta kepada bosse yang awesome. Semoga kelak kita bisa bertemu dan bersilaturahmi.

 

Kecup,

Astrid Bonita

Surat kecil kepada si badan kecil

Hallo kak echa yang badannya selalu dan selamanya kecil,
Rasanya senang sekali membaca surat darimu.
Sudah lama sekali aku tak mendapat surat cinta dari orang lain selain dari papa-ku.
Maaf baru sempat membalas suratmu.
Banyak sekali yang ingin kukirimi surat hingga bingung harus pada siapa terlebih dahulu.  

Perihal bisakah kau bersembunyi di belakangku.
Tentu saja bisa. Tapi aku tak mau.
Aku tak mau kau terus berjalan dengan rasa takut pada hidup.
Kau harus menghadapinya sendiri.

Read More »

Surat untuk (calon) anakku

Kepada anakku kelak yang kucintai sampai mati  

Nak, saat aku menuliskan surat ini untukmu,
aku bahkan tak tau siapa yang akan menanamkan benihnya di rahimku dan lahirlah kamu.  
Bahkan ia yang akan menjadi satu-ku pun masih berupa rencana Tuhan paling rahasia.
Apalagi dirimu, nak?  

Tapi ketahuilah,
saat ini aku sudah tau dengan betul bahwa kau akan kujaga dengan sepenuh jiwa raga.
Dengan seluruh kasih sayang yang mengalir di tiap denyut nadi.

Read More »

I Stand By You, literally.

Hallo Adek kecil,

Perkenalkan aku astrid bonita. Kau tentu belum mengenalku saat aku menuliskan surat ini kepadamu. Kita bertemu sejak 2 minggu yang lalu. Sekarang pun masih sering bertemu.

Aku tau kau takkan bisa membaca surat ini sekarang, tapi jika kelak kau membaca ini berarti disaat itu kau sudah tumbuh jadi anak pintar dan baik – baik saja. Semoga kau memang baik – baik saja.

2 minggu lalu saat aku sedang bertugas menjaga ruang perinatal, tiba – tiba terdengar bunyi decitan roda inkubator yang sedang di dorong.  Lalu kau pun datang.

Read More »

Cinta di persimpangan jalan.

Selamat siang bapak dan ibu,

Maaf karena telah menggangu waktu kalian. Semoga kalian sempat membaca surat ini, sepucuk surat singkat ini takkan lama.

Aku tau kalian sedang sibuk melawan terik matahari dan menghirup dalam – dalam debu dan polusi kota malang demi sedikit rejeki. Demi 1 atau 2 rupiah yang diberikan orang – orang di lampu merah. Demi sebungkus nasi untuk mengganjal perut sebelum tidur di emperan toko.

Read More »

Kepada tuan di masa depan.

Hai kamu yang kuberi nama Lelakiku,

Bagaimana ya rasanya membaca surat ini ketika aku dan kamu menjadi kita selamanya?

Kepada kamu yang kucinta sampai nanti,

Ingin kusampaikan bagaimana dan mengapa aku ingin terus bersama kamu. Kupastikan kamu adalah pria tersabar yang mampu mengendalikan aku dan egoku. Kupastikan kamu adalah satu dari sedikit orang yang mampu menenggelamkanku dalam pelukmu. Kupastikan kamu adalah titipan Tuhan untuk menjagaku. Kupastikan kamu….. ah, apapun itu, kupastikan kamu memiliki beribu alasan untuk kucinta sampai nanti.

Read More »

Untuk cinta pertama anak perempuan-nya, Papa.

Yang terkasih di Manado,

Papi Sudi Mbotengu.

“…. Papi tau perasaanmu nak. Tentu terkadang rasa rindu pada sosok papimu ini datang mengelayut di hati. Sabar ya sayang.”

Syalom papi, tadi itu penggalan sms yang papi kirim kemarin siang.  Ah, papi selalu begitu romantis. Mungkin waktu muda papi begitu lihai menuliskan surat cinta seperti ini. Bahkan lebih bagus dan puitis. Harusnya papi juga ikut #30HariMenulisSurat Cinta seperti ini. Hahaha..

Read More »

Kepada kalian yang tak pernah ku tahu namanya.

Selamat pagi om, tante, bapak dan ibu. Perkenalkan, aku astrid bonita.

Kita tak pernah berkenalan sebelumnya, waktu itu keadaan membuat kita tak sempat berkenalan dengan cara yang baik, kalian hanya sepintas lalu ada di hidupku, tanpa aku kenali dengan baik bentuk wajahnya, tapi aku mengingat kalian dengan baik. Tepatnya mengingat apa yang terjadi saat itu dengan baik.

Mungkin kalian sudah lupa kejadian waktu itu. Sudah lama sekali. 16 tahun yang lalu.

Lewat surat ini, aku ingin mengatakan beberapa hal dan menceritakan kembali sebagai sedikit pengingat. Sebagai cerita yang bisa kalian baca disaat duduk menikmati secangkir kopi dan beberapa potong pisang goreng di sore hari. Semoga tukang pos-ku tak salah alamat karena harus mengirimkan surat ini jauh-jauh sampai ke Tual – Maluku Tenggara.

Read More »