(Bukan) Surat Terakhir


Yang terkasih Kak ius,
Yang entah sedang di Bintaro atau di Kantor Gatot Subroto.  

Bagaimana kabarmu, gendut?
Ya.. Kamu masih saja gendut. Lalu ya sudah gondrong lagi.
Liburan di Gunung Gede menyenangkan kah? 
Sepertinya memang begitu.
Senang (atau mungkin tidak) melihatmu baik-baik saja.  

Kau tau?
Saat aku menuliskan surat ini untukmu, aku sudah mulai baik-baik saja.
Tidak lagi berurai mata di setiap kata yang kutulis lalu mengingatmu.


 
Apakah kini kau telah menemukan dia yang baru? Menemukan “kita” yang baru
Kuharap belum
Tapi jika sudah, semoga dia adalah perempuan yang sedemikian mencintaimu seperti aku.
Semoga dia adalah perempuan yang bisa mengerti bahwa kau lebih suka main game dan nonton film ketimbang memberi kabar setiap waktu.
Semoga dia tau bahwa takaran kopimu adalah 2 sendok gula dan 1 sendok kopi. Kau suka sekali makan mie ayam dengan banyak sekali sambal dan saos, yang suka sekali mie rebus dengan telur setengah matang dan rajangan cabe yang banyak.
Semoga dia bisa menerima bahwa kau akan berlama-lama di kamar mandi karena buang air pun akan sambil main game. Kemudian setelahnya, kau akan menyeka tanganmu yang basah di celanamu.
Semoga dia adalah perempuan yang bisa menerimamu dengan segala cuek dan keras kepalamu.  

Yah, segalamu masih saja melekat di ingatanku
Setiap hal kecilnya.
Bahkan manis kecup dan hangat tubuhmu pun aku ingat dengan betul.  
Dan kau pun tau bahwa perempuan rewel sepertiku, hanya bisa merasa nyaman jika ditenggelamkan dalam pelukmu.
Yang hanya bisa diam saat kedua bibirmu mengatup bibirku.
Yang tau bahwa, kecupan di kening sungguh membuatku senang dan tenang.  

Sungguh! Aku membenci segala yang pernah ada
Segala yang membuatku terus mengingatmu
Ingatan yang melekat bagaikan tatto yang terukir sempurna.
Aku membencimu dengan segala ketidak mampuanku untuk membencimu.  

Ah, aku merindukanmu.
Sangat!  

Apakah kau masih mengingatku?
Masihkah password laptopmu adalah tanggal ulang tahunku?
Masihkah kau merindukanku?  

Jika kelak kau begitu merindukanku dan ingin kembali,
Tolong jangan kembali!
Betapa pun aku sangat ingin kau kembali.  

Masihkah kau ingat bagaimana kita memulai semuanya?
Kau bertanya apakah aku menyayangimu? Kataku ya
Sebagai sahabat, sebagai kakak dan “something else” tanyamu
Dan jawabku pun ya.
Hari ini, saat aku tak bisa lagi menyayangimu sebagai kekasih,
aku masih saja menyayangimu sebagai sahabat dan kakakku.
Orang yang pernah begitu berharga untukku.  

Gendut,
Lukaku belum sembuh benar.
Aku dengan begitu tertatih membangun kembali hidupku, pun hatiku.
Aku takkan mungkin melupakanmu, aku hanya bisa berusaha untuk tidak lagi mengingat-ingat dirimu.  

Aku mau hidup baik-baik saja.
Aku harus baik-baik saja!
Seperti pesanmu, saat untuk pertama kalinya lelaki egois dan keras kepala sepertimu menangis di depanku, mengecup keningku, memelukku erat lalu melepaskanku dengan harapan aku hidup dengan baik walau tanpamu.
Dengan doa agar aku bertemu dengan lelaki yang lebih baik darimu.  

Sekarang, aku sedang dan masih terus berusaha melakukannya;
Menyembuhkan luka besar di hati karena kehilangan
Agar kelak siap menerima dia, yang berusaha menjagaku dengan sebaik-baiknya, atau mungkin dia yang kelak juga akan memberikan luka yang sama besarnya.  

Gendut,
Semoga kau pun hidup dengan baik-baik saja
Tanpa aku.  

Salam hangat,
Astrid Bonita
(Mantan) Cempluk-mu  

Advertisements

One thought on “(Bukan) Surat Terakhir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s